Sat
2
May
dedisupriadims

Konsep Hidup

Hidup adalah penerapan rasa secara bergulir. Kata rasa yang dimaksud ialah pasangan kata yang berlawanan arti terdapat dalam hati manusia seperti kata pinter dan bodoh, miskin dan kaya, serta kata  salah dan betul dan sebagainya.

Contoh pasangan kata tersebut dipergunakan sebagai sarana atau jalan untuk memperoleh nilai hidup seseorang. jadi bukan dipergunakan untuk tujuan hidup. Seperti seseorang bercita cita ingin menjadi orang pinter; ingin menjadi orang kaya; ingin menjadi orang digdaya. Pada orang yang berpandangan hidup atau orang yang hidupnya mengacu pada agama tertentu tujuan hidup seperti itu belum terdapat referensinya.

Kenapa pasangan kata dalam rasa tersebut tidak dipergunakan sebagai tujuan hidup manusia, karena hanya dipergunakan pertama sebagai arti untuk dipahami dalam berbahasa agar bisa terjalin komunikasi, kedua sebagai alat kebijakan atau pertimbangan di dalam mengambil keputusan untuk bisa tetap/teteg pada pandangan hidup yang diyakini, dan ketiga untuk membedakan strata manusia sebagai dasar di dalam mengambil suatu keputusan yang berdasar pengetahuan. Semakin tinggi pengetahuan ilmu seseorang maka semakin kecil kemungkinan hidup mengikuti alam rasa, dan semakin tinggi pengetahuan ilmu seseorang maka akan semakin ekstrim atau mengikuti pilihan yang benar  dalam memilih satu diantara pasangan kata rasa tersebut.

Alam rasa menurut pasangan kata tersebut mengandung makna negatif (kurang) terletak di bagian kiri dengan notasi negatif (-), dan makna positif terletak di bagian kanan dengan notasi positif (+). Sebagai contoh pada pasangan kata bodoh pandai (pinter).  Menurut alam rasa, bodoh adalah kurang pandai. Demikian juga arti pandai, pandai adalah kurang bodoh. Contoh lainnya pada pasangan kata Miskin Kaya, miskin  artinya kurang kaya, dan kaya artinya kurang miskin.  Menyimak dua contoh pasangan kata tersebut maka perasaan manusia yang dilandasi pengetahuan rasa dapat dipastikan tidak condong ke kiri mau pun ke kanan akan tetapi tegak di tengah,  maksud kata tegak di tengah, perasaan tidak memihak yang benar (+) atau yang salah (-) atau istilah lain dalam bahasa perasaan manusia disebut bersifat adil.

Berpedoman pada alam rasa, Jelas lah  kalimat  “Program mengentaskan kemiskinan melalui pembagian Bantuan Langsung Tunai kepada orang miskin adalah perbuatan Mubajir”. Kenapa? sebab, kata miskin dan kaya berada di alam rasa tiap orang,  jadi kalau ada program pembagian hadiah bagi yang merasa miskin maka setiap orang akan mengambil kesempatan tersebut, dalam kenyataan kehidupan daftar orang yang merasa miskin selalu meningkat, artinya orang memiliki kecenderungan untuk berbuat negatif kecuali orang yang beragama.

Pengetahuan rasa manusia sebagai landasan untuk mengambil keputusan tetap tegak kepada pedoman hidup yang diyakini.  Pedoman hidup merupakan istilah dalam perasaan untuk menyatakan bahwa perasaannya tidak memihak yang benar atau yang salah, akan tetapi sesuai dengan petunjuk Yang Hidup (disingkat petunjuk hidup/pedoman hidup). Jadi secara akademis pengetahuan nilai hidup manusia memiliki syarat perlu pemahaman tentang hidup.

Pengetahuan tentang hidup sangat terbatas karena bersifat ghaib, ghaib adalah segala sesuatu yang  nyata adanya namun tidak berbentuk (ghaib iku samubarang sing nyata mung ora wujud), oleh karena itu perlu perbandingan dari unsur hidup dari makhluk selain manusia seperti tumbuhan. Tumbuhan dapat hidup karena punya Nyawa, nyawa dicipta oleh Yang Maha Pencipta. Pengetahuan tentang nyawa sangat terbatas karena termasuk ghaib. Jadi pemahaman tentang hidupnya tumbuhan dibatasi oleh sifat dari nyawa. Pembanding kedua binatang, binatang bisa hidup karena punya nyawa dan ruh. Pengertaian dan pemahaman hidup binatang dibatasi oleh sifat nyawa dan ruh. Pengetahuan tentang ruh bagi manusia sangat terbatas, oleh karena itu pengertian hidupnya binatang kurang dipahami. Kita sebagai bangsa Manusia dapat hidup karena punya Nyawa, Ruh dan Sukma (Dedi S, 2005, Jabaran hidup). Berdasarkan unsur ciptaan hidup tersebut maka manusia merupakan makhluk yang paling sempurna, karena ada unsur hidup yang tidak dimiliki oleh bangsa makhluk lainnya. Oleh karena itu Pengertian dan pemahaman hidup manusia secara akademis harus mengacu pada Sifat Sukma (Yang Suci).  Jika mengacu pada sifat nyawa dan ruh saja maka sama artinya hidup mengacu pada sifat binatang.  Sifat binatang maksudnya karakteristik dan perilaku dari ruh binatang, pengetahuan tentang ruh binatang sangat terbatas dan hanya orang tertentu dapat mengetahui dan berkomunikasi dengan binatang seperti Nabi Sulaeman dan sekarang sangat sedikit orang jawa yang dapat berkomunikasi dengan binatang.   Sukma adalah hilangnya manusia, atau gaibnya manusia, atau adanya manusia. Adanya Manusia jika ada rasa, rasa ada jika hidup, oleh karena itu hidup adalah penerapan rasa. atau hidup merupakan nyatanya sukma. Sehingga pengetahuan sukma merupakan pengetahuan Rasa manusia. Sifat sukma antara lain tidak mau disakiti dan tidak mau menyakiti (dasar dari pasangan kata sakit-senang). Kata sakit termasuk dalam alam rasa, jadi nyatanya sukma (adanya sukma) ada di Rasa, oleh karena itu disebut juga “nyatanya hidup manusia  ada di rasa“, bentuk pernyataan umum  ” Hidupnya bangsa manusia di alam nyata (di atas bumi) merupakan penerapan rasa yang selalu berputar dan bergulir”.
Hidup manusia menurut sastra akan tercermin dari penerapan rasa. Letak rasa di hati manusia. Karena fungsi hati sebagai nyatanya rasa, maka hati sifatnya bolak-balik. Artinya,  hati  seseorang akan dinyatakan dalam hidup  pada dua sisi yang berlawanan  yaitu  bentuk pilihan baik atau benar, senang atau susah. sugih atau melarat, cinta atau benci. Oleh karena itu dalam kenyataan hidup manusia,  pilihan rasa suatu saat cinta pada waktu yang lain untuk keputusan yang sama bisa berbalik jadi benci. Apabila seseorang kebiasaan keputusan rasa bolak balik dikatakan orang tersebut tidak punya pendirian. Karena tidak punya pendirian berarti orang tersebut dalam menerapkan rasa tidak punya standar acuan. Jika hidup tidak memeliki standar acuan hidup  maka hal mustahil untuk bisa menilai apakah penerapan rasa seseorang  keliru atau betul ?.

Penerapan Rasa

Kepada siapa rasa manusia diterapkan? untuk mengetahui hal ini perlu beberapa pendekatan untuk dapat mengambil keputusan kepada siapa rasa diterapkan.  Pendekatan pertama berdasar pada  sastrabudaya, pendekatan kedua dan seterusnya belum dapat  disampaikan dalam tulisan ini.   Menurut sastrabudaya,  manusia dicipta sebagai makhluk yang paling sempurna, Makhluk yang paling mulya, dan makhluk yang mendapat amanah sebagai Pemimpin (Kholifah di Atas  Bhumi).

Tujuan penerapan rasa manusia  sebagai makhluk mulya adalah untuk memulyakan sesama hidup sesuai predikatnya sebagai makhluk hidup yang termulya. Kita perhatikan fakta dalam kehidupan bahwa seseorang di alam penghidupan ada yang predikatnya sebagai dosen, penarik beca, supir dan sebagainya. Apa pendapatnya jika seorang dosen tidak mau menjalankan tugasnya sebagai dosen. Tugas dosen antara lain melakukan pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Jika hal ini terjadi atau  tidak mau melaksanakan tugasnya, maka disebut dosen ingkar (orang yang melanggar kewajibannya). Keingkaran tersebut akan mengakibatkan gangguan pada penghidupan dan dalam kehidupannya. Jika keingkaran yang dilakukan dapat dipertanggung jawabkan maka tidak akan merugikan, baik pada penghidupan mau pun kehidupan. Peristiwa Ini lah yang disebut dengan kalimat “setiap manusia dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya”. Dengan demikian orang yang berpredikat mulya sudah pasti perbuatannya memulyakan sesama hidup.

Nilai hidup

Hidup adalah penerapan rasa, pelaksanaan penerapan rasa menurut sistem dapat dibedakan menurut pandangan hidup. Pertama menganut sistem bebas bertindak rasional tidak terkait dengan rasa atau dasar tindakan/perbuatan  hanya berdasarkan alam pikir, atau pengalaman yang pernah dilakukan sebagai dasar untuk memilih keputusan bahwa perbuatan yang akan dilakukan termasuk baik, dan layak dilakukan sehingga merasa yakin bahwa perasaan yang menerima perbuatan tersebut pasti senang. Sistem penerapan rasa model kebebasan berpikir tidak bernilai sebab menurut alam pikir perbuatan baik dan buruk sama mubahnya atau tidak punya nilai sama sekali, padahal selagi berpikir mestinya memenuhi syarat awal hidup, tanpa hidup tidak akan bisa berpikir apalagi sampai menghitung berapa nilai hidupnya. Buktinya sebagai berikut; menurut sastra  baik (+) adalah kurang(-) buruk(-) atau menurut notasi matematika +=-x-, Menurut akal fikir baik dan buruk sama saja sebab buruk(-) adalah kurang(-) baik (+) atau menurut matematika -=-x+. Jadi menurut akal fikir memandang perbuatan baik (+) dan Buruk (-) sama saja nilai hidupnya bahkan dari segi kuantitas cenderung lebih banyak negatif bahasa sosialnya disebut manusia cenderung berbuat salah atau menurut bahasa agama manusia adalah tempat kesalahan (satu kebaikan sama dengan dua kali keburukan, +=- x -), istilah sastranya hidup yang berpedoman pada alam fikir (kareping fikir) mengalami kebangkrutan atau hidup yang selalu mengalami kekurangan (perbuatannya selalu minus/kurang). Satu peristiwa perbuatan jika dilakukan berdasarkan pertimbangan alam pikir, maka    akan menimbulkan kesimpulan negatif 2 dan positif 1, artinya sekali kita memutuskan bahwa perbuatan yang telah dilakukan diyakini baik maka dua kesalahan akan di dapat sehingga setiap perbuatannya akan selalu kurang 1 kebaikan, dalam bahasa sastra setiap manusia memiliki kekurangan. Karena manusia memiliki kekurangan maka seorang manusia harus  pandai menutup kekurangan orang lain, setidaknya tidak mengungkap keburukan dan diam lebih baik dari pada mengungkap keburukan orang lain.  Contoh lain dalam perbuatan baik dalam menerapkan rasa “mengucapkan salam (+)kepada orang yang belum dikenal (-)”, maka sudah pasti ucapan salam tersebut akan tertolak(-), kenapa? karena ada kekurangan (-) yang ada pada proses pengucapan salam tersebut, namun jika persyaratan terpenuhi (mengurangi kesalahan dalam proses pemberian salam, kebaikan tersebut menjadi netral, artinya kita mengucapkan salam tidak untuk memperoleh kebaikan dari orang yang diberi salam).

Menurut sastra culture (sastraculture.com) budaya barat dominan akal fikir maka kebenaran menurut pandangan manusia adalah hak yang utama dalam segala bidang dan berkembang dengan baik dan patut dicontoh bagi budaya timur, kenapa? karena menjalani hidup, penghidupan dan kehidupan yang benar yang riil sesuai dengan agama (walaupun orang itu tidak mengenal agama), seperti rasa sosial yang tinggi karena rasa solidaritas yang tinggi, perikemanusiaan(norma kemanusiaan diterafkan dengan konsisten) yang sangat bagus, semua kegiatan yang menyangkut harkat dan martabat bangsa dibangun bersama dalam bentuk perserikatan bangsa-bangsa (PBB). Dapat disimpulkan bahwa budaya barat mendominasi dunia saat ini, pertanyaannya apakah tujuan hidup sebagai manusia, atau sebagai pemimpin bangsa, atau sebagai agamawan, atau sebagai ilmuwan, atau sebagai artis, atau sebagai ekonom sudah tercapai ? kalau sudah tercapai berapa besar nilai hidup anda? apakah nilai hidup anda menimbulkan rasa bahagia saat ini, atau rasa menyesal, atau rasa benci, atau marah kepada keadaan. Jawaban yang pasti adalah beragam dan tidak jelas, karena pertanyaanya yang keliru.

Pandangan hidup kedua adalah menganut sistem Keimanan, dalam sistem keimanan penerapan rasa telah ditetapkan aturan cara melaksanakan atau telah ditetapkan petunjuk pelaksanaannya.  Petunjuk tersebut sifatnya pasti, artinya apa yang diwajibkan atau apa yang dilarang keduanya dipatuhi sama sama mendapat nilai positif. Bahasa sastranya sebagai berikut “Melaksanakan (+) kewajiban(+) atau meninggalkan/alfa (-) Larangan (-). Bahasa agamanya mengatakan melakukan kewajiban akan mendapat imbalan baik minimal 2 kali lipat, sebaliknya meninggalkan larangan satu kali akan mendapat imbalan baik 1 kali lipat (satu poin), tapi jika melakukan larangan akan mendapat satu poin kesalahan (+ x – = -), bahasa agamanya orang yang melakukan pelanggaran akan kena sangsi sesuai dengan perbuatannya.

Pandangan hidup atau keimanan  seseorang dalam suatu agama dapat menilai kuantitas nilai hidupnya karena mengetahui suatu perbuatan yang dilakukan apakah termasuk larangan atau kewajiban. Fakta kehidupan menunjukan bahwa orang yang beriman ada yang nilai hidupnya rendah, sedang dan tinggi. Pertanyaannya 1) Apa yang dinilai ? 2) Siapa yang menilai? 3) Apa tujuan menilai ? 4) Kapan menilai ? 5) Dimana hasil penilaian?.

1. Apa yang dinilai? yang dinilai adalah penerapan rasa kita yang ditujukan kepada yang hidup, karena yang dituju adalah yang hidup, maka yang melakukan penerapan rasa punya syarat perlu hidup. Bagaimana orang yang sedang tidur, apakah dia dapat melakukan penerapan rasa? jawab, bisa jika dia punya wakil. Wakil adalah sesuatu kewenangan yang dilimpahkan kepada penerima rasa  secara syah, seperti hartanya, ilmunya, dan kekuasaannya, dan yang melimpahkan kewenangan bertanggungjawab atas apa yang dilimpahkan kepada wakil. Contoh penerapan rasa pada harta yang sesuai dengan perikemanusiaan adalah saham, atau bentuk usaha/bisnis yang bersifat kerja sama dan sama sama dalam mempertanggungjawabkan harta yang diusahakannya.

Penerapan rasa oleh yang sedang hidup perlu mengetahui jenis rasa yang diterapkan, pada jasad kita disebut rasa asli manusia yang semua orang merasakan sama seperti rasa manis dari gula, rasa asin dari garam, rasa pahit dari obat. Rasa yang bernilai (+) adalah rasa yang asli,  dan rasa yang merugikan (-) adalah rasa yang palsu. contoh bahan pemanis gula dari bahan kimia, operasional penerapan rasa dalam bentuk mengupayakan, menyebarkan /menjual  dan ada yang menggunakan bahan pemanis tersebut, maka yang menggunakan adalah merasakan gula manis tapi tidak sebenarnya rasa gula asli. Jadi yang dinilai di dalam penerapan rasa adalah perbuatan palsu (dalam bahasa rasa pasangan palsu adalah asli). Apa itu perbuatan palsu, perbuatan palsu adalah perbuatan yang kurang asli. Jadi dalam fakta jika menyimpan, mengedarkan dan merasakan bahan makanan  ada unsur kepalsuan tanpa memandang besar atau kecil kepalsuan atau keasliannya maka perbuatan/penerapan  rasa tersebut dikategorikan palsu.

Contoh lainnya adalah rasa fisik manusia, Manusia dicipta sepasang, jenis wanita (-) dan laki-laki (+). Rasa asli manusia adalah rasa yang sesuai dengan fisik, artinya secara fisik laki-laki maka rasa yang diterapkan adalah rasa laki-laki, atau fisik wanita maka rasa yang diterapkan adalah rasa wanita. Rasa palsu manusia adalah rasa yang terbalik atau melakukan penerapan rasa yang melanggar/melakukan larangan (-).

Penerapan rasa diibaratkan melepas busur anak panah yang diarahkan kepada yang  hidup. Proses melepas busur dilakukan sebagai berikut, pertama hati kita dikondisikan, apakah yang akan dilakukan ? dalam bahasa sastra disebut dengan setiap amal perbuatan harus diawali niat, jika tidak maka tidak syah perbuatan tersebut, artinya tidak menerapkan rasa. Jika kita tidak menerapkan rasa maka tidak ada Nilai dalam hidup.  Kedua melepas rasa, rasa apa ? Jawab, Apa profesinya?. Jawab, Penyanyi. Seorang Penyanyi akan melepas rasa melalui suara yang keluar dari mulutnya. Si Penerima rasa akan mendengar dan dilanjutkan ke hatinya. Jika si penyanyi melantunkan lagu syahdu maka hati pendengar akan ikut syahdu, jika malantunkan lagu cinta maka akan diterima merasakan indahnya cinta. Penilaian ada diakhir proses penyampaian, jika hasilnya positif maka penonton akan nampak seberapa besar  semangat hidupnya yang ditunjukan dengan perbuatan yang nampak. Fakta menunjukkan bahwa penonton ada yang tidak kuat menahan luapan kegembiraan atau kecintaannya pada penyanyi. Artinya penerapan rasa sesuai materinya, sesuai waktunya, sesuai isinya, sehingga yang diterima penonton penglihatan, pendengarannya, dan hatinya sesuai dengan yang disampaikan oleh penyanyi. Berapa nilai total dari nilai hidup sesorang penyanyi? . Jawab, Tergantung dari penyanyi tersebut, jika penyanyi tersebut ada niat melakukan hal negatif, maka terhapuslah rasa positif orang yang pernah mendengar kabar negatifnya. Jadi Semakin tinggi nilai hidup penyanyi maka semakin tinggi resiko yang ditanggungnya.  Untuk menghilangkan kesan negatif satu jalan yang dapat ditempuh adalah meminta maaf kepada umum. Jadi kata kunci untuk profesi artis, jangan pernah berbuat negatif, karena rasa artis merupakan rasa masyarakat.
2. Siapa yang menilai rasa
Rasa ada pada tiap individu, oleh karena itu secara fisik akal fikir dari individu sendiri yang dapat menilai bukan akal fikir di luar dirinya, akal fikiran yang berkembang dan terus bekembang karena selalu dipergunakan dalam setiap perbuatan manusia menyebabkan dunia barat rasa sosial, rasa persatuan, dan rasa solidaritas terus meningkat, sebaliknya dunia timur rasa sosial, rasa persatuan dan rasa solidaritas terus menurun, kenapa? Karena dunia timur penerapan rasa didominasi oleh dogma/mengikuti aturan yang telah ditetapkan tanpa akal fikir, walau pun pada agama tertentu telah diingatkan bahwa taklik buta (tanpa akal) dilarang. Kenapa hal ini terjadi di dunia timur (budaya timur), karena hal penerapan rasa secara berputar dan bergulir belum dipahami, bukti belum pahamnya hidup adalah terjadi pertentangan dalam satu pandangan hidup dalam berbagai aliran, baik pandangan hidup beragama maupun hidup bernegara. Jika hidup tidak dipahami maka sudah dipastikan tidak akan mengetahui berapa nilai hidup. Jika nilai hidup belum diketahui maka jangan harap bisa menentukan atau meningkatkan kualitas hidup. Jika dipandang dari sudut ekonomi berapa dana yang mubazir telah dikeluarkan oleh PBB untuk meningkatkan kualitas hidup, sementara penyumbang dana dan penerima dana tidak mengenal hidup.
Pertanyaan no.3 sampai no.5 berkaitan dengan sistem aturan hidup manusia pada berbagai bidang penghidupan maupun kehidupan manusia seperti ekonomi, hukum, budaya, agama dan semua aspek peraturan yang berkaitan dengan tata cara hidup dan aturan hubungan antar manusia sebagai individu maupun hidup bernegara, tidak pandang apakah suatu negara domokrasi, kerajaan atau militer, maka jika definisi hidup telah disepakati oleh orang hidup maka sudah dapat dipastikan revisi besar besar pada tatanan maupun aturan tentang hubungan dalam penghidupan dan kehidupan umat manusia, yang tentu saja ini merupakan tugasnya para akhli yang bersangkutan.



Author:
Time:
Saturday, May 2nd, 2009 at 11:54 am
Category:
Sastra
Comments:
You can leave a response, or trackback from your own site.
RSS:
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
Navigation: